Kenapa Kita Mimpi Jatuh dari Ketinggian? Ini Penjelasan Otaknya!
Psikologi & Neurologi

Kenapa Kita Mimpi Jatuh dari Ketinggian? Ini Penjelasan Otaknya!

Pernahkah kamu tiba-tiba terbangun dari tidur dengan jantung berdebar kencang, merasa seperti baru saja terjun bebas dari tebing curam? Sensasi jatuh saat tidur itu begitu nyata, sampai-sampai kita bisa merasakan hempasan angin di wajah dan perut yang terasa kosong. Anehnya, kita masih berada di atas kasur yang empuk. Kenapa ya, otak kita suka sekali mempermainkan kita seperti ini?

Hypnic Jerk: Bukan Sekadar Mimpi Jatuh Biasa

Fenomena ini, secara ilmiah, dikenal sebagai hypnic jerk. Bukan sekadar mimpi jatuh biasa, hypnic jerk adalah kontraksi otot yang tiba-tiba dan tidak disengaja yang terjadi saat kita mulai tertidur. Bayangkan seperti korsleting kecil di sistem saraf pusat kita. Tapi kenapa korsleting ini bisa terjadi dan kenapa seringkali diiringi sensasi jatuh?

Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan fenomena aneh ini. Salah satu teori yang paling populer adalah kaitannya dengan transisi dari keadaan sadar ke tidur. Ketika kita mulai mengantuk, detak jantung dan pernapasan kita melambat, dan otot-otot kita mulai rileks. Nah, di sinilah otak kita kadang "kebingungan."

Otak, khususnya reticular activating system (RAS), bertugas mengatur siklus tidur dan bangun. Dalam proses transisi ini, RAS bisa salah menafsirkan relaksasi otot sebagai tanda bahwa kita sedang jatuh atau berada dalam bahaya. Akibatnya, ia mengirimkan sinyal cepat ke otot-otot kita untuk berkontraksi, menciptakan hypnic jerk yang mengagetkan.

Evolusi atau Error?

Beberapa ilmuwan percaya bahwa hypnic jerk mungkin merupakan sisa evolusi. Dulu, ketika nenek moyang kita tidur di pepohonan, kontraksi otot ini mungkin berguna untuk mencegah mereka jatuh dari dahan. Teori ini didukung oleh fakta bahwa hypnic jerk lebih sering terjadi pada posisi tidur yang kurang stabil.

Namun, teori lain berpendapat bahwa hypnic jerk hanyalah kesalahan acak dalam proses neurologis kita. Kurangnya tidur, stres, kafein, dan olahraga berat sebelum tidur dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hypnic jerk. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan sistem saraf menjadi lebih sensitif dan mudah "terpicu."

Studi Kasus dan Fakta Mengejutkan

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Sleep Research menemukan bahwa sekitar 70% orang mengalami hypnic jerk setidaknya sekali seumur hidup mereka. Studi tersebut juga menemukan bahwa orang yang lebih cemas atau stres lebih mungkin mengalami hypnic jerk secara teratur.

Fakta mengejutkan lainnya adalah bahwa hypnic jerk tidak selalu diiringi sensasi jatuh. Terkadang, orang melaporkan sensasi melayang, tersentak, atau bahkan mendengar suara keras sebelum terbangun. Variasi sensasi ini menunjukkan bahwa hypnic jerk adalah fenomena kompleks yang melibatkan berbagai bagian otak.

Jadi, Apakah Ini Berbahaya?

Kabar baiknya, hypnic jerk umumnya tidak berbahaya. Namun, jika terjadi terlalu sering atau mengganggu kualitas tidurmu, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan. Coba hindari kafein dan alkohol sebelum tidur, kelola stres dengan teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga, dan pastikan kamu mendapatkan tidur yang cukup.

Kenapa otak kita melakukan ini? Apakah ini sinyal evolusi yang tersisa, atau hanya glitch kecil dalam sistem yang kompleks? Yang jelas, sensasi jatuh saat tidur adalah pengingat bahwa bahkan dalam istirahat, otak kita terus bekerja, berusaha melindungi kita, kadang-kadang dengan cara yang aneh dan mengejutkan. Mungkin, lain kali kamu mengalami hypnic jerk, coba tersenyum. Anggap saja itu sapaan dari alam bawah sadarmu. Sekarang, coba pikirkan: apa yang paling sering membuatmu mengalami sensasi jatuh itu? Mungkin jawabannya ada di rutinitasmu sehari-hari.

Related Articles

More Articles You Might Like